SESAL
Aku, tak lebih dari sepotong Rembulan pucat, terjerembab di jelaga malam. Nyanyian burung hantu, jeritan srigala bahkan gemuruh anginpun mencemooh, menikam duka yang telah menguar di hati. Berbatang-batang ciggarette yang kuhisap tak mampu mengibaskan perih, justru mendorongku ke lubang penyesalan yang mengerikan.
“Pantaskah aku dipanggil papa, ketika tangan ini telah mengalirkan darah? Darah anakku sendiri?”
Masih terpampang jelas di mataku, Doni Putra semata wayangku menggelepar jadi pesakitan di ruang operasi, karena aku. Salahku.
”Maafkah Papa, Doni….!”
********
Siang itu terik mentari membakar bumi. Panas terasa menyengat memanggang seluruh geliat punggung-punggung. Angin kemarau menghempas-hempas tak mampu menahan cucuran peluh. Namun Aku tak bergeming. Langkahpun kupacu membelah neraka di siang itu. Hanya satu yang kutuju, ”RUANG KEPALA SEKOLAH”. Sejuta tanya telah menggelayut dibenak, ”Ada apa Kepala Sekolah memanggilku lagi?”
”Ada apa lagi dengan Doni anak saya pak ?”, tanyaku tak sabar.
Pak Sudirman, kepala SD itu tidak langsung menjawab. Dihelanya napas panjang, menepis seluruh penat dikepalanya yang mulai memutih.
”Maafkan kami Pak Hendra! Kami sudah berusaha membinanya, tapi……”.
”Tapi..apa pak? Doni mencuri lagi ?”
”Iya pak, bahkan kali ini milik Bu Sinta diambilnya pula!”.
”Anak Keppaarraattt….!” Seketika jantungku berdentam-dentam.
Napaspun memburu menghentak amarah naik ke ubun-ubun. Bagai srigala kelaparan, aku segera bangkit. Tanpa pikir panjang, kudobrak ruang kelas Doni, kuseret dia keluar dan kugelandang hingga ke rumah.
”Kenapa kamu maling lagi?? Kenapa!!! Masih kurang uang yang papa kasihkan?!! Untuk apa? Main game? Internet, jajan atau apa??!!!”, teriakku dengan amarah menggelegak.
Doni tertunduk. Diam dan membisu.
”Ayo jawab!!!”, teriakku lagi. Namun Doni tetap membisu. Melihat Doni tak bergeming, aku makin geram. Entah iblis mana yang bertahta. Tanganku terasa ringan melayang menghantam wajah pias itu.
PLAAKKKHHH!!!..PLAAKKHH!!.
”Dasar anak kepparatt!!! Telingamu nggak dengar ya!!!”.
Dua buah tamparan keras telak, mendarat dipelipis dan bibir Doni. Tubuh kurus itu terhuyung dengan wajah lebam. Darah mengalir disudut-sudut bibirnya.
”Siapa yang ngajarin kamu jadi maling hah…! siapa…!”, teriakku sambil mengambil sebilah bambu disudut ruangan. Doni masih menunduk.
”Ayo jawab!!!. Siapa yang ngajarin kamu maling!!! Siapa..!!”
”Nggak….nggak ..a…a..da pa!”
”Nggak ada??. Lantas kenapa kamu maling?? Kenapa??”
”Nggak..nggak ta..ta..tahu pa!”
”Kamu tahu, apa hukuman orang yang mencuri??!!”.
Doni terdiam. Wajahnya pucat pasi. Sementara peluh-peluh mulai membasahi tubuhnya yang gemetar.
”Mana tanganmu…..!”, teriakku lagi. Dengan gemetar Doni menjulurkan tangannya.
”Jadi ini tangan maling itu..!”. PLAKHH….PLAKKHH..!!!. secepat kilat sebilah bambu telah kuhantamkan pada telapak tangan mungil itu.
”Ampun Pa..sakit Pa…! Ampun…….!”, teriak Doni dengan bercucuran air mata, mendekap pedih di kedua telapak tangannya.
”Apa? Ampun..? Kamu tahu, hukuman pencuri itu potong tangan! Kamu mau? Mana tanganmu..!”
”Jangan Pa! Ampun Pa! …..ampun…….!”
”Mana tanganmu!!!!!”
Dengan gemetar Doni menjulurkan lagi tangannya.
”Plakhhh….! Plakhhh…..!”. kembali bambu itu menghantam tangan mungil Doni.
“Ampun Pa! Sakit pa..! ampun pa..! Doni Kapok pa..!” teriak Doni sambil kembali terduduk mendekap tangannya yang mulai berdarah.
“Berdiri kamu..!”, teriakku sambil mengangkat bambu tinggi-tinggi.
”Pa………jangan pa..jangan! kasihan Doni Pa! Jangan!”, teriak Viya, istriku yang tiba-tiba berhamburan menubruk tubuh Doni yang masih tersungkur..
”Biarkan Ma ! Biar tahu rasa dia. Biar mampus sekalian! Anak keparat pantas menerima hukuman!!!”.
************
Pagi menjelang. Viya telah berkemas. Ada workshop di luar kota selama seminggu. Demikian juga dengan aku. Berangkat pagi buta, pulang malam telah menjadi menu harianku. Dan….entah iblis mana yang bertahta dihatiku hingga tak kuhiraukan ketika Bik Iyem melapor bahwa Doni demam dan tangannya bengkak.
”Biarin bik! Biar tahu rasa dia. Itu hukumannya orang yang suka mencuri.”
Ternyata, inilah awal bencana itu. Seiring deru angin , yang tak henti mengoyak daun-daun kering, tanpa kusadari, luka ditangan anakku telah membusuk dengan belatung-belatung dinanahnya.
Dan betapa terkenjutnya aku, ketika dokter mengatakan, ”Maaf pak, semuanya telah terlambat . Dengan terpaksa tangan Doni harus diamputasi!”
”Astaghfirullahal’adzim………………….”
*************
.

Agustus 12th, 2009 at 12:45
terkadang qta harus berhati-hati bila berucap…
karena ucapan berarti doa
dan memberi pelajaran pada anak bukan harus dengan kekerasa
salam
Agustus 12th, 2009 at 14:04
papa yg galak nih. lam kenal juga ya.tks dah ke blog aku.
Agustus 12th, 2009 at 14:35
sebuah pelajaran buat orang tua. tidak selalu kekerasan menjadi guru yang terbaik.mungkin dengan kasih sayang membuat pendidikan menjadi lebih manis
Agustus 12th, 2009 at 14:48
rasa sesal adalah hukuman terberat
think before we do stupid things, when it’s done..it’s done!
salam sayang
Agustus 12th, 2009 at 15:07
Batu tertunduk oleh air….
mimpi menghilang karna terbangun..
salam kenal
Agustus 12th, 2009 at 16:56
kasihan doni
Agustus 12th, 2009 at 17:40
Wah keren cerpennya..pelajaran yang baik buat kita semua
Agustus 12th, 2009 at 19:53
Ini Cerpen atau cerita pribadi sich ?
Aku ikut berduka atas musibah dan rasa sesal memang harus dijadikan pelajaran buat kita semua….
Salam
Agustus 12th, 2009 at 23:00
pelajaran berharga buat orang tua..hati2 kalo berbicara…
Agustus 12th, 2009 at 23:49
Tangan mungil yg tak mampu lg meraih peluk papa
Agustus 13th, 2009 at 09:01
Terkadang orang tua suka berambisi ingin bermaksud baik pada anaknya tetapi tidak bisa menyelami minat dan hati anaknya
Agustus 13th, 2009 at 10:52
rasa amarah yg reflek kadang terjadi begitu cepat pada anak
saya sering reflek, tapi lebih baik memukul tembok aja
jangan sampe terjadi sama kita dehh..
Agustus 13th, 2009 at 13:34
Dan setelah pulang dari rumah sakit, setiap saat si Doni kecil akan selalu bertanya kepada papahnya,”Pa, Doni sudah tidak pernah mencuri lagi. Tolong kembalikan tangan Doni, Pa…”
Pandangan mata dari bocah polos itu menjadi silet yang cukup tajam untuk mengiris-iris batin penyesalan.
Agustus 13th, 2009 at 22:33
Gw merinding baca komen ~noe~
duh dony,maafin papamu..
Agustus 13th, 2009 at 22:49
Dikira cerita pengalaman pribadi, ternyata cerpen…SEREM CERITANYA
1. jangan sampai emosi menguasai diri kita
2. Penyesalan selalu datang belakangan
3. Introspeksi diri, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Mungkin bapaknya Doni Koruptor ato dulunya juga klepto
Agustus 14th, 2009 at 08:06
waduwww…
Agustus 20th, 2009 at 11:59
.. tapi kadang mmg kekerasan seperti itu ada di sekitar kita ..
September 7th, 2009 at 08:39
cerita yang menghentak…memberi pelajaran bahwa orang tua adalah contoh…good story pak…